
Hati-hati Jika Mulai Bisnis dengan MLM
Multilevel Marketing memang saat ini cukup populer dikalangan kaum ibu rumah tangga. Cuma yang saya ingin garis bawahi adalah kaum ibu yang memulai berjinak jinak dengan bisnis dan mulai dengan MLM sebaiknya tidak justru banyak mengikuti gathering ketimbang menjual. Jika begini, lebih banyak uang keluar ketimbang mendapatkannya. Kita perlu duduk bisnis MLM ini pada porsi yang sebenarnya. Jika kita ingin menjadi anggota karena ingin memakai produk, itu tidak menjadi masalah. Tetapi ketika kita ingin mencari downline, tentukan sejak awal siapa yang akan menjadi anggota dibawah kita. Sebab banyak kasus menunjukkan bahwa kaum ibu yang mulai bisnis MLM menjadi kehilangan arah dalam mencari downline dan akhirnya dia hanya mengikuti aneka gathering tetapi tidak pernah bisa berjualan.
MLM memang bisa menjadi pintu pertama ibu rumah tangga yang ingin memulai bisnis apalagi modalnya kecil. Namun hendaknya, mereka harus paham benar apa bisnis itu seraya memikirkan jenis bisnis lain yang bisa mereka ceburi. Para ibu rumah tangga mesti lebih dahulu paham bahwa sebelum mendapatkan uang, yang bersangkutan mungkin harus mengikuti banyak gathering terlebih dahulu yang mengenakan biaya buat mengikutinya .
Menurut saya, jika modalnya lebih besar, misalnya dengan menggandeng teman teman, saya cenderung untuk mendirikan usaha waralaba atau franchise untuk satu merk yang sudah mapan. Dengan mendirikan usaha waralaba, waktu tidak banyak terbuang, model bisnisnya sudah jelas lemgkap dengan penataan tata ruang dan sebagainya. Tinggal kita memasarkannya dan meningkatkan bisnis kita dengan resiko rendah. Secara gamblang, membuka restoran atau supermarket yang sudah dikenal merknya, maka pemilik bisnis waralaba ini tidak perlu banyak memikirkan segala sesuatunya ketika bisnis ini baru berdiri .
Namun tentu saja bisnis waralaba bukan satu satunya pilihan, demikian juga dengan bisnis MLM. Yang ingin saya katakan disini adalah satu penekanan saya yang berulang ulang bahwa untuk memulai bisnis adalah BUKAN melihat bisnis apa yang ada di masyarakat sekarang ini, tetapi APA YANG DIBUTUHKAN masyarakat dan komunitas terdekat saat ini .
Jadi kaum ibu rumah tangga misalnya bisa mendirikan pusat kursus membaca, menulis dan matematika untuk balita misalnya , karena sekarang ini prospeknya cerah. Ada keinginan dari orang tua sekarang yang tidak ingin anak anaknya seperti mereka ketika kecil. Bisnis ini bahkan bisa diawali dengan penguasaan kita dalam bidang matematika misalnya. Ibu rumah tangga bisa menawarkan kursus privat yang kemudian bisa dikembangkan menjadi sebuah lembaga kursus.
Hal lain yang menurut saya sedang trend adalah kursus parenting. Ada kebutuhan dari orang tua yang keduanya sama sama sibuk bekerja untuk mendidik anaknya dengan baik. Kaum ibu rumah tangga bisa menjual undangan kepada teman teman dengan menghadirkan psikolog anak. Ibu rumah tangga tidak hanya memperoleh pengetahuan cara mendidik anak dengan benar tetapi disaat bersamaan dia sudah mulai melakukan bisnis.
Adiwarman Karim - Presiden Direktur Karim Business Consulting