18 Oktober 2011 pukul 06:15 WIB

Berbisnis dengan Nilai Spiritual

Bisakah menjalankan bisnis secara jujur? Jika pertanyaan ini ditujukan kepada para pengusaha atau marketer yang langsung berhubungan dengan klien, mereka pasti akan berpikir tidak hanya sekali untuk menjawab “bisa”. Pasalnya untuk menjalankan bisnis dengan tingkat kejujuran 100% ternyata tidak semudah seperti yang ditekadkan. “Kalau kita jujur seratus persen, mana ada klien yang mau bermitra dengan kami,” kata seorang pemasar produk komunikasi.

Persoalannya bisakah kita meraih keuntungan dengan menjunjung kejujuran dan etika? Kalau pertanyaan itu kita tujukan kepada Eko Jalu Santoso, penulis buku The Wisdom of Business, jawabnya pasti bisa. Pasalnya menurut Eko, Tuhan adalah pemilik utama setiap pekerjaan dan organisasi perusahaan atau Bisnis yang sedang kita jalankan. Kalau kita sebagai pengusaha, pemilik perusahaan, atau pemegang saham, maka kita adalah pengelola lapis pertama yang diberi amanah oleh Tuhan (halaman 201).

Kalau kita adalah karyawan, pegawai, professional, kita adalah pengelola lapis kedua, ketiga dan seterusnya yang juga diserahi amanah oleh Tuhan. “Pada akhirnya semuanya akan bertanggungjawab kepada Tuhan. Kesadaran seperti ini dapat menjadi pembimbing bagi setiap pelaku dunia usaha untuk senantiasa mengambil tindakan sesuai dengan syariat yang dibenarkan oleh Tuhan,” tulisnya. Kesadaran itu akan mendorong setiap pelaku usaha dan professional untuk selalu tunduk dan mengorbit kepada pusat hati nurani yang merupakan pusat spiritual tertinggi.

Maka bisa dipahami jika pakar ekonomi syariah Muhammad Syafii Antonio berpendapat buku yang ditulis Eko Jalu Santoso itu mampu memberikan paradigma baru terhadap bisnis dan entrepreneurship. Menurut Antonio, berbisnis bukan saja bertujuan untuk mencari keuntungan semata, tapi juga dapat memberdayakan sesama, mengurangi pengangguran, memperbaiki lingkungan, memberikan pendapatan untuk negara, dan menjadikan hidup lebih bermakna. “Oleh karena itu, proses bisnis tidak boleh dilepaskan dari upaya menghadirkan keagungan Tuhan, keluhuran moralitas, dan suara hati dalam setiap tahapannya,” komentar Antonio.

Sudahkah para pelaku Bisnis dan para professional di dalamnya telah menjalankan Bisnis mereka dengan moral tinggi? Fakta tidak bisa dimungkiri, iklim kehidupan Bisnis modern yang cenderung mementingkan keberhasilan materialisme, sebagaimana diungkap Eko Jalu Santoso dalam pengantarnya, mendorong para pelaku Bisnis dan masyarakat umum memiliki paradigma sempit tentang arti dunia Bisnis pada umumnya.

Perspektif Berbeda

Buku The Wisdom of Business ini memberikan perspektif berbeda, memberikan prinsip Bisnis yang baik, meraih sukses dengan mengedepankan nilai spiritual universal berdasarkan suara nurani. Adakah pelaku Bisnis yang meraih sukses dengan mengedepankan nilai-nilai spiritual? Jelas ada. Eko Jalu memberi contoh William Soeryadjaya, pendiri PT Astra International yang berhasil membangun dan membesarkan Astra setelah menyerahkan diri kepada Tuhan.

Begitu juga dengan Thayieb Mohammad Gobel yang menjadikan Bisnis sebagai ladang kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang. Prinsip serupa juga ada pada Bill Gates, Warren Buffett, dan Muhammad Yunus. Singkat cerita, lewat buku ini, penulis mengajak siapapun pebisnis untuk menghidupkan spiritualitas dalam berbisnis. (Gantyo Koespradono/M-4)

ekojalusantoso.com

Nama Unik
Kata Sandi
[ Registrasi | Lupa Sandi ]
Pramu Gerai
GTalk
ponggawa [at] gerainiaga [dot] com
s [at] gerainiaga [dot] com
Komisi Dibayarkan
Rp. 8.852.329,95
Nun Amarilis # Abu-abu
Twitter
AfiliasiBewaraPoinTentang

© 2011 - 2013 gerainiaga.com

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 5.x.x dan Resolusi 1280 x 1024 Pixels